Jumat, 17 Oktober 2014

Nifaq


NIFAQ


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
TAUHID
Dosen Pengampu :
Bapak Rahmadi Wibowo S
Disusun oleh :
Nuzulul hikmah balighoh
14710013

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
2014/2015


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Sebagai insan yang beriman, kita harus mampu membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk. Dimana, terkadang seseorangpun ada yang belum faham tentang suatu hal yang bisa menjebaknya dalam suatu perbuatan yang salah, bahkan lebih parah lagi apabila menyangkut keimanannya ( melepas imannya tanpa dia sadari ) naudzubillahi min dzalik.
            Tiap-tiap dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus juga bisa menjadi dosa besar. Dosa besar tersebut ada yang nampak dan ada juga yang tersembunyi, yang salah satunya adalah “nifaq”. Dari masalah inilah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini, agar orang-orang yang beriman mengetahui tentang penertian dan jenis-jenis perilaku tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada masalah-masalah sebagai berikut:
  1. Apa yang disebut dengan “nifaq”
  2. Mengapa orang yang beriman diharuskan mengerti tentang nifaq?
  3. Bagaimana seseorang mampu menghindari / mengantisipasi perbuatan nifaq tersebut?

1.3  Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut
  1. Mengetahui dan memahami pengertian nifaq.
  2. Mengetahui dan memahami jenis jenis dari nifaq.
  3. Mengetahui dan memahami bahaya nifaq.
  4. Mampu menghindari perbuatan nifaq tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

NIFAQ
Definisi dan jenisnya
a.     Definisi Nifaq
Nifaq secara bahasa berasal dari kata (nafiqa’) yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana jika ia dicari dari lubang yang satu maka akan keluar dari lubang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata (nafaq) yaitu ubang tempat tersembunyi. [1]
Nifaq menurut syara’ yaitu menampakkan islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Ada yang berpendapat pula bahwa nifaq adalah suatu perbuatan yang lahir dan bathinnya tidak sama, secara lahiriyah beragama islam namun jiwanya atau bathinnya tidak beriman. Adapun orang yang melakukan hal ini disenut dengan munafik; secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut: yaitu orang yang berpura-pura menampakkan keislamannya dengan mengucapkan syahadat, mengerjakan sholat dan sebaginya hanya sebagai kebohongan semata. Hal ini atas berdasarkan firman allah :
 
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[2]," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al Baqoroh : 8)
Adapun sebab-sebab seseorang menjadi munafik diantaranya :
1)     Sebab didorong adanya keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2)     Sebab adanya rasa dendam tehadap kaum muslim, guna mencari kesempatan untuk merongrong islam dan umatnya dari dalam.
Type orang munafik yang kedua paling berbahaya bagi orang islam. Seperti yang pernah terjadi pada kholifah umar bin khottob sejak beliau menjabat sebagai kholifah yang kedua daam sejarah islam
Ada seorang keturunan majusi (persi) bernama abu lu’lu, ia masuk islam hanya untuk melampiaskan dendamnya, sehingga ia berhasil menikam kholifah umar bin khottob ketika beliau sedang melaksanakan sholat shubuh bersama kaum muslimin dengan khusyuknya. Kemudian pembunuh munafik ini memenggal kepal sendiri setelah melukai tiga belas orang lainnya.
Gejala dan cirri-ciri orang munafik :
1)     Jika mereka berkumpul dengan orang muslim, mereka secara spontan akan menyatakn sebagai orang muslim pula, namun disaat ia bersama kawan-kawan sesamanya, ia akan mengatakan pada mereka bahwa pernyataannya hanyalah omong kosong semata.
Sebagai mana firman allah :
 “dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[3], mereka mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok." (QS. Al baqoroh : 14 )
2)      iman orang munafik hanyalah sandiwara saja, maka orang-orang munafik itu akan mudah sekali berubah pendiriannya, karena terombang ambing situasi, akibatnya mereka menjadi pin plan, bahkan ia sering dihantui rasa was-was, sehingga jika ada perubahan sedikit saja, ia akan tampak kegelisahannya.
Sebagai mana firman allah :
“orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu. (QS. Al Hadid : 14)
3)     Dalam al quran telah dikatakan bahwa orang-orang munafik itu sama sekali tidak berbobot. Tubuh mereka tampak gagah, perkataan mereka selalu tinggi dan mengagumkan dll. Tetapi mereka ibarat kayu berlubang tengah yang disandarkan, sehingga tidak mempunyai kekuatan yang hakiki, karena tidak mempunyai akar, firman allah :
 “dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[4]. mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Al Munafiqun : 4)

4)     Suka pamer, ia senang menunjukkan kebaikan-kebaikannya dan jasa mereka, sehingga mereka suka dipuji dan disanjung, seperti dalam firman allah :
 
“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[5]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[6] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[7]. (QS. An Nisa’ : 142)
 Oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang tidak bermanfaat dan bahkan merugikan orang lain, maka mereka kelak akan mendapat siksaan yang pedih diakhirat nanti, sesuai firman allah :
145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.(QS. An Nisa’: 145)

b.     Jenis Nifaq
Nifaq ada dua jenis : nifaq I’tiqodi dan nifaq ‘amali

v Nifaq I’tiqodi ( keyakinan )
Nifaq I’tiqodi (keyakinan) yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu:

Pertama : Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
Kedua : Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
Ketiga : Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
Keempat : Tidak senang dengan kemenangan Islam.

v Nifaq ‘amali

            Nifaq amali (perbuatan) yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan perantara untuk menjadi nifaq I’tiqodli. Orang munafik tingkatan ini berada diantara iman dan nifaq. Jadi bila seseorang melakukan perbuatan ini secara terus-menerus maka ia menjadi munafik sesungguhnya. berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.
"Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya; bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang." (Muttafaqun 'alaih).

Seseorang yang melakukan perbuatan salah namun ia tidak menyadarinya sangat berpotensi besar terjebak dalam sifat munafik. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, sehingga para Sahabat Radhiyallahu anhum begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.”

c.      Perbedaan Antara Nifaq Besar Dengan Nifaq Kecil
1.     Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
2.     Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam hal keyakinan.
3.     Nifaq besar tidak terjadi dari seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang Mukmin.
4.     Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah, sehingga Allah menerima taubatnya.

d.     Bahaya-bahaya dari sifat nifaq
Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahaya-bahay dari sifat munafik, sebagai berikut :
 1.Menipu ALLAH TA'ALLA dengan menampakkan kebaikan tetapi menyembunyikan keyakinan yang jahat dalam hati,dengan anggapan bahwa ALLAH tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan
2.Salah satu pembatal keislaman bila ia adalah nifaq murni(nifaq akbar)dan akan merusak kesempurnaan tauhid bila ia adalah nifaq kecil
3.Menjadi penghunio dasar neraka selama-lamanya sebagaimana telah tergambar jelas dalam surah An-Nisa:145
4.Munafik lebih berbahaya dari pada orang kafir yang nonmunafik,lantaran ia menampakkan kebaikan di antara orang muslimin namun hati mereka menyimpan rasa permusuhan yang bisa saja di tampakkan sewaktu-waktu tepat tanpa di sadari oleh kaum muslimin.Ibaratnya mereka dengan kaum muslimin adalah musuh dalam selimut.Oleh karnanya,ALLAH TA'ALLA menyebutkan bahaya mereka di saat ALLAH menerangkan  tiga golongan dengan sifat masing-masing dalam surah Al-Baqarah:kaum muslimin sebanyak 4 ayat,orang kafir nonmunafik 2 ayat,sedangkan orang munafik di jelaskan sebanyak 7 ayat,agar hambanya sadar akan bahaya sifat munafik ini.

e.     Cara-cara menghindari sifat nifaq
Sifat nifaq merupakan sifat yang membahayakan baik diri sendiri, orang lain, agama, bahkan keimanan seseorang, oleh karena itu, sebagai orang beriman, ita perlu menghindari sifat-sifat nifaq tersebut, diantaranya dengan :
1. Berusaha mendekatkan diri kepada إﷲ , kalau kita telah terbiasa dekat dengan إﷲ, maka kita bisa lebih kuat melindungi diri dari godaan syetan yang akan membujuk kita kepada hal-hal tercela, termasuk sifat munafik ini.
 2. Membiasakan diri dalam keadaan  berwudhu’ , hal ini dapat kita upayakan agar terhindar dari tipu daya syetan/nafsu.
3. Memperbaiki setiap keburukan dengan berbuat baik kepada orang lain , contohnya dengan senantiasa memuhasabahi diri , karena jika kita mengingat keburukan diri, maka kita akan malu dan berusaha menghindari sifat buruk tersebut.
4. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa-dosa mulai dari yang kecil-besar.
5. Senantiasa takut kepada إﷲ dan menjalin silaturrahim sesama teman , jadi, tidak cukup saja hubungan kita dengan إﷲ tetapi juga harus disertai dengan hubungan sesama manusia. Dan jika silaturrahim diantara sesama sudah erat, maka kita tidak sanggup lagi untuk mendustai, mengingkari, ataupun mengkhianatinya. Dan kalau kita takut kepada إﷲ maka kita tidak berani untuk berbuat munafik.
6. Senantiasa mengingat kematian , karena jika kita mati dalam keadaan munafik, tentulah kita manusia yang merugi.
7. Senantiasa menjaga lisan , kebanyakan orang berbuat munafik disebabkan karena lisannya. Menjaga lisan contohnya dengan tidak mudah menguber janji, menghindari perilaku bergunjing, berkata seperlunya, bicara apa adanya, dan lain-lain.
8. Mengingat bahwa إﷲ Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, dan Mengawasi kita.
9. Meneladani sikap Rasulullah SAW.
10. Memohon kepada إﷲ setiap saat.
11. Tidak menerima amanah yang kita rasa tidak sanggup memikulnya, karena jika kita tidak sanggup maka cenderung akan mengkhianati amanah tersebut.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dengan pemaparan definisi dan jenis dari nifaq di atas dapat disimpulkan bahwa definisi dari nifaq adalah suatu perbuatan, dimana antara perbuatan dan bathinnya berbeda. Nifaq ini sangat berbahaya , bagi agama, maupun keimanan seseorang.
Diharapkan dengan pemahaman nifaq ini. Memberi pandangan agar manusia khususnya muslim menghindari sifat tersebut, agar kita dapat selamat dunia maupun diakhirat.

3.2  Saran
Setelah membahas nifaq dan jenis-jenisnya. Maka kami berharap agar kita semua dapat benar-benar menghindari sifat nifaq tersebut, karna kita telah mengetahui bahwa perbuatan nifaq sangatlah bahaya .


REFERENSI

·       Shalih.2014.kitab tauhid 3.jakarta;darul haq
·       Safroni,m. ladzi.1992.75 dosa besar.surabaya;media idaman press
·       Ahmad,Muhammad.1998.tauhid ilmu kalam untuk iain semua fakultas dan jurusan komponen MKDU.bandung; C.V.Pustaka Setia





[1] Lihat, ibnu al Atsir, an Nihayat,5/98
[2] Hari kemudian Ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya
[3] Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.
[4] Mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, Maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka adalah kosong tak dapat memahami kebenaran.
[5] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[6] Riya Ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat
[7] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar