NIFAQ
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah
TAUHID
Dosen Pengampu :
Bapak Rahmadi Wibowo S
Disusun oleh :
Nuzulul hikmah balighoh
14710013
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUNAN KALIJAGA
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sebagai insan yang beriman, kita
harus mampu membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk. Dimana,
terkadang seseorangpun ada yang belum faham tentang suatu hal yang bisa
menjebaknya dalam suatu perbuatan yang salah, bahkan lebih parah lagi apabila
menyangkut keimanannya ( melepas imannya tanpa dia sadari ) naudzubillahi min
dzalik.
Tiap-tiap dosa kecil yang dilakukan
secara terus menerus juga bisa menjadi dosa besar. Dosa besar tersebut ada yang
nampak dan ada juga yang tersembunyi, yang salah satunya adalah “nifaq”. Dari
masalah inilah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini, agar orang-orang
yang beriman mengetahui tentang penertian dan jenis-jenis perilaku tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada
masalah-masalah sebagai berikut:
- Apa yang disebut dengan “nifaq”
- Mengapa orang yang beriman diharuskan mengerti tentang nifaq?
- Bagaimana seseorang mampu menghindari / mengantisipasi perbuatan nifaq tersebut?
1.3
Tujuan Makalah
Adapun
tujuan dari pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut
- Mengetahui dan memahami pengertian nifaq.
- Mengetahui dan memahami jenis jenis dari nifaq.
- Mengetahui dan memahami bahaya nifaq.
- Mampu menghindari perbuatan nifaq tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
NIFAQ
Definisi dan jenisnya
a. Definisi Nifaq
Nifaq secara bahasa
berasal dari kata (nafiqa’) yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’
(hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana jika ia dicari dari lubang yang
satu maka akan keluar dari lubang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata
(nafaq) yaitu ubang tempat tersembunyi. [1]
Nifaq menurut syara’
yaitu menampakkan islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan
kejahatan. Ada yang berpendapat pula bahwa nifaq adalah suatu perbuatan yang
lahir dan bathinnya tidak sama, secara lahiriyah beragama islam namun jiwanya
atau bathinnya tidak beriman. Adapun orang yang melakukan hal ini disenut
dengan munafik; secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut: yaitu orang
yang berpura-pura menampakkan keislamannya dengan mengucapkan syahadat, mengerjakan
sholat dan sebaginya hanya sebagai kebohongan semata. Hal ini atas berdasarkan
firman allah :
“Di antara manusia ada
yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[2],"
pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al Baqoroh :
8)
Adapun sebab-sebab
seseorang menjadi munafik diantaranya :
1) Sebab
didorong adanya keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2) Sebab
adanya rasa dendam tehadap kaum muslim, guna mencari kesempatan untuk
merongrong islam dan umatnya dari dalam.
Type orang munafik yang
kedua paling berbahaya bagi orang islam. Seperti yang pernah terjadi pada
kholifah umar bin khottob sejak beliau menjabat sebagai kholifah yang kedua
daam sejarah islam
Ada seorang keturunan
majusi (persi) bernama abu lu’lu, ia masuk islam hanya untuk melampiaskan
dendamnya, sehingga ia berhasil menikam kholifah umar bin khottob ketika beliau
sedang melaksanakan sholat shubuh bersama kaum muslimin dengan khusyuknya.
Kemudian pembunuh munafik ini memenggal kepal sendiri setelah melukai tiga
belas orang lainnya.
Gejala dan cirri-ciri
orang munafik :
1) Jika
mereka berkumpul dengan orang muslim, mereka secara spontan akan menyatakn
sebagai orang muslim pula, namun disaat ia bersama kawan-kawan sesamanya, ia
akan mengatakan pada mereka bahwa pernyataannya hanyalah omong kosong semata.
Sebagai mana firman
allah :
“dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang
yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". dan bila
mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[3], mereka
mengatakan: "Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah
berolok-olok." (QS. Al baqoroh : 14 )
2) iman orang munafik hanyalah sandiwara saja,
maka orang-orang munafik itu akan mudah sekali berubah pendiriannya, karena
terombang ambing situasi, akibatnya mereka menjadi pin plan, bahkan ia sering
dihantui rasa was-was, sehingga jika ada perubahan sedikit saja, ia akan tampak
kegelisahannya.
Sebagai mana firman
allah :
“orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin)
seraya berkata: "Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?"
mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan
menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan
kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah
oleh (syaitan) yang Amat penipu. (QS. Al Hadid : 14)
3) Dalam
al quran telah dikatakan bahwa orang-orang munafik itu sama sekali tidak
berbobot. Tubuh mereka tampak gagah, perkataan mereka selalu tinggi dan
mengagumkan dll. Tetapi mereka ibarat kayu berlubang tengah yang disandarkan,
sehingga tidak mempunyai kekuatan yang hakiki, karena tidak mempunyai akar,
firman allah :
“dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh
mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan
Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[4].
mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.
mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga
Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari
kebenaran)? (QS. Al Munafiqun : 4)
4) Suka
pamer, ia senang menunjukkan kebaikan-kebaikannya dan jasa mereka, sehingga
mereka suka dipuji dan disanjung, seperti dalam firman allah :
“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka[5].
dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka
bermaksud riya[6]
(dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali[7].
(QS. An Nisa’ : 142)
Oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang
tidak bermanfaat dan bahkan merugikan orang lain, maka mereka kelak akan
mendapat siksaan yang pedih diakhirat nanti, sesuai firman allah :
145. Sesungguhnya
orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari
neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi
mereka.(QS. An Nisa’: 145)
b. Jenis Nifaq
Nifaq
ada dua jenis : nifaq I’tiqodi dan nifaq ‘amali
v Nifaq
I’tiqodi ( keyakinan )
Nifaq I’tiqodi (keyakinan) yaitu nifaq besar, di mana
pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq
ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak
Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan,
seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan
pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka
dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap
zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu
membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke
dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya
secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan
merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang
munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya,
Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari
semua itu dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu:
Pertama : Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
Kedua : Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
Ketiga : Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
Keempat : Tidak senang dengan kemenangan Islam.
Pertama : Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
Kedua : Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
Ketiga : Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam.
Keempat : Tidak senang dengan kemenangan Islam.
v Nifaq
‘amali
Nifaq amali (perbuatan) yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan perantara untuk menjadi nifaq I’tiqodli. Orang munafik tingkatan ini berada diantara iman dan nifaq. Jadi bila seseorang melakukan perbuatan ini secara terus-menerus maka ia menjadi munafik sesungguhnya. berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
أَرْبَعٌ
مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ
مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا
خَاصَمَ فَجَرَ.
"Ada
empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq
sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya,
maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya;
bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia
memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang." (Muttafaqun 'alaih).
Seseorang yang melakukan perbuatan
salah namun ia tidak menyadarinya sangat berpotensi besar terjebak dalam sifat
munafik. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, sehingga
para Sahabat Radhiyallahu anhum begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya
terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: “Aku bertemu
dengan 30 Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua takut
kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.”
c. Perbedaan
Antara Nifaq Besar Dengan Nifaq Kecil
1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya
dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
2. Nifaq besar adalah berbedanya yang
lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah
berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam hal
keyakinan.
3. Nifaq besar tidak terjadi dari
seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang Mukmin.
4. Pada umumnya, pelaku nifaq besar
tidak bertaubat, seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang
diterimanya taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil,
pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah, sehingga Allah menerima taubatnya.
d. Bahaya-bahaya dari sifat nifaq
Dari
penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahaya-bahay dari sifat
munafik, sebagai berikut :
1.Menipu ALLAH TA'ALLA dengan
menampakkan kebaikan tetapi menyembunyikan keyakinan yang jahat dalam
hati,dengan anggapan bahwa ALLAH tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan
2.Salah satu pembatal keislaman bila ia
adalah nifaq murni(nifaq akbar)dan akan merusak kesempurnaan tauhid bila ia
adalah nifaq kecil
3.Menjadi penghunio dasar neraka
selama-lamanya sebagaimana telah tergambar jelas dalam surah An-Nisa:145
4.Munafik lebih berbahaya dari pada
orang kafir yang nonmunafik,lantaran ia menampakkan kebaikan di antara orang
muslimin namun hati mereka menyimpan rasa permusuhan yang bisa saja di
tampakkan sewaktu-waktu tepat tanpa di sadari oleh kaum muslimin.Ibaratnya
mereka dengan kaum muslimin adalah musuh dalam selimut.Oleh karnanya,ALLAH
TA'ALLA menyebutkan bahaya mereka di saat ALLAH menerangkan tiga golongan
dengan sifat masing-masing dalam surah Al-Baqarah:kaum muslimin sebanyak 4
ayat,orang kafir nonmunafik 2 ayat,sedangkan orang munafik di jelaskan sebanyak
7 ayat,agar hambanya sadar akan bahaya sifat munafik ini.
e. Cara-cara menghindari sifat nifaq
Sifat nifaq merupakan sifat yang membahayakan baik
diri sendiri, orang lain, agama, bahkan keimanan seseorang, oleh karena itu,
sebagai orang beriman, ita perlu menghindari sifat-sifat nifaq tersebut, diantaranya
dengan :
1. Berusaha
mendekatkan diri kepada إﷲ , kalau kita
telah terbiasa dekat dengan إﷲ, maka kita
bisa lebih kuat melindungi diri dari godaan syetan yang akan membujuk kita
kepada hal-hal tercela, termasuk sifat munafik ini.
2. Membiasakan diri dalam keadaan
berwudhu’ , hal ini dapat kita upayakan agar terhindar dari tipu daya
syetan/nafsu.
3.
Memperbaiki setiap keburukan dengan berbuat baik kepada orang lain , contohnya
dengan senantiasa memuhasabahi diri , karena jika kita mengingat keburukan
diri, maka kita akan malu dan berusaha menghindari sifat buruk tersebut.
4.
Menjauhkan diri dari perbuatan dosa-dosa mulai dari yang kecil-besar.
5.
Senantiasa takut kepada إﷲ dan menjalin
silaturrahim sesama teman , jadi, tidak cukup saja hubungan kita dengan إﷲ tetapi juga
harus disertai dengan hubungan sesama manusia. Dan jika silaturrahim diantara
sesama sudah erat, maka kita tidak sanggup lagi untuk mendustai, mengingkari,
ataupun mengkhianatinya. Dan kalau kita takut kepada إﷲ maka kita
tidak berani untuk berbuat munafik.
6.
Senantiasa mengingat kematian
, karena jika kita mati dalam keadaan munafik, tentulah kita manusia yang merugi.
7.
Senantiasa menjaga lisan , kebanyakan orang berbuat munafik
disebabkan karena lisannya. Menjaga
lisan contohnya dengan tidak mudah menguber janji, menghindari
perilaku bergunjing, berkata seperlunya, bicara apa adanya, dan lain-lain.
8.
Mengingat bahwa إﷲ Maha Melihat,
Mendengar, Mengetahui, dan Mengawasi kita.
9.
Meneladani sikap Rasulullah SAW.
10.
Memohon kepada إﷲ setiap saat.
11. Tidak
menerima amanah yang kita rasa tidak sanggup memikulnya, karena jika kita tidak
sanggup maka cenderung akan mengkhianati amanah tersebut.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dengan pemaparan definisi dan jenis dari nifaq di atas dapat
disimpulkan bahwa definisi dari nifaq adalah suatu perbuatan, dimana antara
perbuatan dan bathinnya berbeda. Nifaq ini sangat berbahaya , bagi agama,
maupun keimanan seseorang.
Diharapkan dengan pemahaman nifaq ini. Memberi pandangan
agar manusia khususnya muslim menghindari sifat tersebut, agar kita dapat
selamat dunia maupun diakhirat.
3.2
Saran
Setelah membahas nifaq dan jenis-jenisnya. Maka kami
berharap agar kita semua dapat benar-benar menghindari sifat nifaq tersebut, karna
kita telah mengetahui bahwa perbuatan nifaq sangatlah bahaya .
REFERENSI
· Shalih.2014.kitab
tauhid 3.jakarta;darul haq
· Safroni,m. ladzi.1992.75 dosa besar.surabaya;media idaman press
· Ahmad,Muhammad.1998.tauhid ilmu kalam untuk iain semua fakultas dan jurusan komponen MKDU.bandung;
C.V.Pustaka Setia
[1]
Lihat, ibnu al Atsir, an Nihayat,5/98
[4]
Mereka diumpamakan seperti kayu yang
tersandar, Maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh
mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak
mereka adalah kosong tak dapat memahami kebenaran.
[5] Maksudnya: Alah membiarkan mereka
dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para
mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai
pembalasan tipuan mereka itu.
[6] Riya Ialah: melakukan sesuatu amal
tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di
masyarakat
[7]
Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah
sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.