Rabu, 01 April 2015

pentingnya bermain bagi anak

Pentingnya Bermain Bagi Anak
Oleh:
Loh Mahfud Sidiq, Nuzulul Hikmah Balighoh, dan Nurul Hidayati[1]
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Anak dan bermain menjadi dua kata yang sulit untuk dipisahkan, bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertahankan hasil akhir. Dunia bermain merupakan dunia anak,  bermain dilakukan secara sukarela tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak luar dan juga merupakan suatu kewajiban (Hurlock dalam Suhendi, 2001). Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi anak, layaknya kebutuhannya terhadap makanan yang bergizi dan kesehatan untuk pertumbuhan badannya, bermain adalah proses pembelajaran yang melibatkan pikiran, persepsi, konsep, kemahiran sosial dan dan fisik (Cohen, 1993). Melalui bermain, anak akan memahami kehidupannya dan bermain menjadi media untuk mengembangkan tubuh, otot, koordinasi gerakan, kemampuan berkonsentrasi, dan pengembangan kreatifitas.
Piaget (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan atau kepuasan bagi diri seseorang; sedangkan Parten (1932) memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, melalui bermain anak mendapatkan kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Sementara itu, Erikson dan Frued berpendapat bahwa bermain adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna untuk menolong anak dalam menguasai konflik dan kecemasan.
                                             

Prinsip Bermian
Terdapat tiga prinsip dalam bermain, yaitu (Santi, 2009):
1.     Disesuaikan dengan usia, minat, kemampuan, dan perkembangan anak.
2.     Memberikan pengalaman yang nyata bagi anak, sehingga anak termotivasi untuk memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
3.     Bermain dilakukan dalam susana gembira, bebas dari rasa takut dan salah, tidak ada paksaan, dan terakomodasinya perbedaan pendapat diantara setiap anak.

Manfaat Bermain Bagi anak
Bermain memilki manfaat yang banyak bagi aspek perkembangan anak,diantaranya ialah sebagai berikut (Suhendi, dkk., 2001), yaitu:
1.   Fisik- Motorik
Berbagai penelitian menunjukan bahwa bermain dapat memperkuat dan mengembangka kemampuan koordinasi otot melalui gerakan yang dilakukan anak secara bebas sehingga mampu mengembangkan kemampuan motoriknya, seperti memanjat, melangkah, melompat, berayun dan sebagainya.
2.     Perkembangan Kognisi
Bermain memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan penalaran dan pemikiran. Melalui bermain, anak akan melakukan eksplorasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai wujud dari rasa keingintahuannya.
3.     Perkembangan Sosial-Emosional
Cohen (dalam Beaty, 2013) mengungkapakan bahwa permaianan dapat berfungsi sebagai jembatan dalam hubungan sosial. Bermain akan mendorong anak meninggalkan pola berpikir egosentris, anak mulai belajar bersosialisasi. Melalui bermain, anak mulai terbiasa untuk berbagi dengan teman lainnya, bertoleransi, dan mengikuti aturan permainan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan sosial anak.
Selain itu, bermain dapat juga digunakan sebagai media mengungkapkan emosi, mengembangkan kepercayaan diri, menyalurkan agresivitas, dan meningkatkan kemampuan emosional anak. Melalui bermain anak dapat mengungkapkan semua perasaannya, seperti perasaan marah, takut, cemas, dan juga gembira.
4.     Perkembangan Bahasa
Pada saat bermain, anak berlatih menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan menyatakan ide atau pikirannya. Bermain dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan memberikan kesempatan lebih kepada anak untuk bereksplorasi, sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian dasar suatu pengetahuan dapat dipahami anak dengan mudah (Santi, 2009).

Jenis Bermain
Kegiatan bermain terdiri dari dua macam (Sujiono, 2009), yakni bermain aktif dan bermain pasif. Kegiatan bermain aktif dapat dikatakan sebagai kegiatan yang memberikan kesenangan dan kepuasan pada anak melalui aktivitas yang mereka lakukan sendiri, seperti bermain bebas dan spontan atau eksplorasi, bermain konstruktif, bermain peran, olah raga, bermain musik, mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu, dan permainan lainnya.
Sedangkan bermain pasif diartikan sebagai kegiatan yang tidak terlalu banyak melibatkan aktivitas fisik, misalnya membaca buku atau komik, menonton film, mendengarkan radio, dan lainnya.




Tahapan dan Perkembangan Bermain
Parten (dalam Beaty, 2013: 134) membagi tahapan perkembangan bermain pada anak menjadi enam, pengelompokannya ialah sebagai berikut;
1.     Unoccupied atau tidak menetap. Anak tidak terlibat dalam permainan di sekitarnya, hanya berdiam diri dan hanya melihat anak lain bermain.
2.     Onlooker atau penonton/ pengamat. Anak menghabiskan banyak waktu mengamati apa yang dilakukan anak-anak lain dan bahkan mungkin berbicara dengan mereka tetapi tidak ikut bergabung dalam permainan, serta mulai munculnya ketertarikan untuk bermain.
3.     Solitary Independent Play atau bermain sendiri. Anak terlibat dalam kegiatan bermain, tetapi ia  bermain dengan mainannya sendiri dan tak ikut serta dengan permainan anak lain.
4.     Paralel Activity atau kegiatan pararel. Anak bermain sendiri tetapi ia bermain di sebelah anak-anak lain dan sering kali menggunakan mainan mereka. Meskipun anak bermain di samping anak lain, tetapi tidak mempengaruhi anak-anak lain.
5.     Associative Play atau bermain dengan teman. Anak mulai bermain dengan anak lain menggunakan permainan yang sama dan bahkan berbicara dengan mereka, tetapi ia bertindak sekehendaknya dan tak mau mengikuti aturan kelompok.
6.     Cooperative or Organized Supplementary Play atau kerjasama dalam bermain. Anak bermain dalam kelompok yang ditata melakukan hal tertentu, dan sejak anggotanya menjalankan peren yang berbeda. Anak bekerja sama dengan anak lain untuk membangun sesuatu, terjadi persaingan, membentuk permainan drama, dan biasanya dipengaruhi oleh anak yang memiliki pengaruh atau adanya pemimpin dalam bermain.



Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain (Martuti, 2012)
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi anak dalam bermain:
1.     Tahapan perkembangan anak, aktivitas bermain yang dilakukan anak harus sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak, karena bermain adalah media untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
2.     Kondisi kesehatan anak; untuk bermain anak memerlukan energi, sehingga ketika anak sedang dalam keadaan sakit tidak perlu bermain.
3.     Jenis kelamin anak, alat-alat atu media yang digunakan untuk menunjag aktivitas bermain diarahkan untuk membatu anak mengetahui identitas dirinya.
4.     Lingkungan; lingkungan yang mendukung dapat mensimulasi imajinasi dan kreativitas anak.
5.     Alat dan jens permainan harus sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.


DAFTAR PUSTAKA
1.     Beaty, Janice J. 2013. Observasi Perkembangan Anak Usia Dini (terj A.k. Anwar). Kencana Prenanda Media Group.
2.     Martuti, A. 2012. Mengelola PAUD: Dengan Aneka Permainan Meraih Kecerdasan Majemuk. Bantul: Kreasi Wacana.
3.     Santi, Danar. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini: Antara Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks.
4.     Santrock, John W. 2002. Live Span Development. Jakarta: Erlangga.
5.     Suhendi, A., dkk. 2001. Mainan dan Permainan. Jakarta: PT Gramedia.
6.     Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.




*14710040, 14710013, dan 14710063