Pentingnya Bermain Bagi Anak
Oleh:
Loh Mahfud Sidiq, Nuzulul Hikmah Balighoh, dan Nurul
Hidayati[1]
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan
Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Anak dan bermain menjadi dua kata yang sulit
untuk dipisahkan, bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang
ditimbulkan tanpa mempertahankan hasil akhir. Dunia bermain merupakan dunia
anak, bermain dilakukan secara sukarela
tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak luar dan juga merupakan suatu kewajiban
(Hurlock dalam Suhendi, 2001). Bermain adalah kegiatan yang sangat penting bagi
anak, layaknya kebutuhannya terhadap makanan yang bergizi dan kesehatan untuk
pertumbuhan badannya, bermain adalah proses pembelajaran yang melibatkan
pikiran, persepsi, konsep, kemahiran sosial dan dan fisik (Cohen, 1993).
Melalui bermain, anak akan memahami kehidupannya dan bermain menjadi media
untuk mengembangkan tubuh, otot, koordinasi gerakan, kemampuan berkonsentrasi,
dan pengembangan kreatifitas.
Piaget (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa
bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan
kesenangan atau kepuasan bagi diri seseorang; sedangkan Parten (1932) memandang
kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, melalui bermain anak mendapatkan
kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi,
dan belajar secara menyenangkan. Sementara itu, Erikson dan Frued berpendapat
bahwa bermain adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna
untuk menolong anak dalam menguasai konflik dan kecemasan.
Prinsip Bermian
Terdapat tiga prinsip dalam bermain, yaitu
(Santi, 2009):
1. Disesuaikan dengan usia, minat, kemampuan, dan perkembangan anak.
2. Memberikan pengalaman yang nyata bagi anak, sehingga anak termotivasi untuk
memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
3. Bermain dilakukan dalam susana gembira, bebas dari rasa takut dan salah,
tidak ada paksaan, dan terakomodasinya perbedaan pendapat diantara setiap anak.
Manfaat Bermain Bagi anak
Bermain memilki manfaat yang banyak bagi aspek
perkembangan anak,diantaranya ialah sebagai berikut (Suhendi, dkk., 2001),
yaitu:
1. Fisik- Motorik
Berbagai
penelitian menunjukan bahwa bermain dapat memperkuat dan mengembangka kemampuan koordinasi otot melalui gerakan yang dilakukan anak secara bebas sehingga mampu mengembangkan kemampuan motoriknya,
seperti memanjat, melangkah, melompat, berayun dan sebagainya.
2. Perkembangan Kognisi
Bermain memiliki
peran yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan penalaran dan pemikiran. Melalui bermain, anak akan melakukan
eksplorasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai
wujud dari rasa keingintahuannya.
3. Perkembangan Sosial-Emosional
Cohen (dalam Beaty, 2013) mengungkapakan bahwa permaianan
dapat berfungsi sebagai jembatan dalam hubungan sosial. Bermain akan mendorong
anak meninggalkan pola berpikir egosentris, anak mulai belajar bersosialisasi. Melalui bermain, anak mulai terbiasa untuk berbagi
dengan teman lainnya, bertoleransi, dan mengikuti aturan permainan, sehingga
dapat meningkatkan kemampuan sosial anak.
Selain itu, bermain dapat juga digunakan sebagai media
mengungkapkan emosi, mengembangkan kepercayaan diri, menyalurkan agresivitas,
dan meningkatkan kemampuan emosional anak. Melalui bermain anak dapat
mengungkapkan semua perasaannya, seperti perasaan marah, takut, cemas, dan juga
gembira.
4. Perkembangan Bahasa
Pada saat
bermain, anak berlatih menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan menyatakan
ide atau pikirannya. Bermain dapat
meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan memberikan kesempatan lebih kepada
anak untuk bereksplorasi, sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian
dasar suatu pengetahuan dapat dipahami anak dengan mudah (Santi, 2009).
Jenis Bermain
Kegiatan
bermain terdiri
dari dua macam (Sujiono, 2009), yakni bermain aktif dan bermain pasif.
Kegiatan bermain aktif dapat dikatakan sebagai kegiatan yang memberikan
kesenangan dan kepuasan pada anak melalui aktivitas yang mereka lakukan
sendiri, seperti bermain bebas dan spontan atau eksplorasi,
bermain konstruktif, bermain peran, olah raga, bermain musik, mengumpulkan atau mengoleksi
sesuatu, dan permainan lainnya.
Sedangkan
bermain pasif diartikan sebagai kegiatan yang tidak terlalu banyak melibatkan
aktivitas fisik, misalnya membaca buku atau komik, menonton
film, mendengarkan radio, dan lainnya.
Tahapan dan Perkembangan Bermain
Parten (dalam Beaty, 2013: 134) membagi tahapan
perkembangan bermain pada anak menjadi enam, pengelompokannya ialah sebagai
berikut;
1. Unoccupied atau tidak
menetap. Anak tidak terlibat dalam permainan di sekitarnya, hanya berdiam diri dan
hanya melihat anak lain bermain.
2. Onlooker atau penonton/
pengamat. Anak menghabiskan banyak waktu mengamati apa yang dilakukan anak-anak
lain dan bahkan mungkin berbicara dengan mereka tetapi tidak ikut bergabung
dalam permainan, serta mulai munculnya ketertarikan untuk
bermain.
3. Solitary Independent Play atau bermain sendiri. Anak terlibat dalam kegiatan bermain, tetapi ia bermain dengan mainannya sendiri dan tak ikut serta dengan permainan anak
lain.
4. Paralel
Activity atau kegiatan
pararel. Anak bermain sendiri tetapi ia bermain di sebelah anak-anak lain dan sering
kali menggunakan mainan mereka. Meskipun anak bermain di samping anak lain,
tetapi tidak mempengaruhi anak-anak lain.
5. Associative Play atau bermain dengan teman. Anak mulai bermain dengan anak lain menggunakan permainan
yang sama dan bahkan berbicara dengan mereka, tetapi ia bertindak sekehendaknya
dan tak mau mengikuti aturan kelompok.
6. Cooperative or Organized
Supplementary Play atau kerjasama dalam bermain. Anak bermain dalam kelompok yang ditata melakukan
hal tertentu, dan sejak anggotanya menjalankan peren yang berbeda. Anak bekerja sama dengan anak lain untuk membangun sesuatu, terjadi
persaingan, membentuk permainan drama, dan biasanya dipengaruhi oleh anak yang
memiliki pengaruh atau adanya pemimpin dalam bermain.
Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain (Martuti, 2012)
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
anak dalam bermain:
1.
Tahapan perkembangan anak, aktivitas bermain yang dilakukan anak harus sesuai
dengan perkembangan dan pertumbuhan anak, karena bermain adalah media untuk
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak.
2.
Kondisi kesehatan anak; untuk bermain anak memerlukan energi, sehingga
ketika anak sedang dalam keadaan sakit tidak perlu bermain.
3.
Jenis kelamin anak, alat-alat atu media yang digunakan untuk
menunjag aktivitas bermain diarahkan untuk membatu anak mengetahui identitas
dirinya.
4.
Lingkungan; lingkungan yang mendukung dapat mensimulasi
imajinasi dan kreativitas anak.
5.
Alat dan jens permainan harus sesuai dengan tahap pertumbuhan dan
perkembangan anak.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Beaty, Janice J. 2013. Observasi
Perkembangan Anak Usia Dini (terj A.k. Anwar). Kencana Prenanda
Media Group.
2. Martuti, A. 2012. Mengelola PAUD: Dengan Aneka Permainan Meraih
Kecerdasan Majemuk. Bantul: Kreasi Wacana.
3. Santi, Danar. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini: Antara Teori
dan Praktik. Jakarta:
Indeks.
4. Santrock, John W. 2002. Live Span Development. Jakarta:
Erlangga.
5. Suhendi, A., dkk. 2001. Mainan dan Permainan. Jakarta: PT
Gramedia.
6. Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: Indeks.
Heheh yang calon ibu sudah berproses terlebih dahulu
BalasHapus